Latest Post

Luwungragi, 22 Februari 2021

Memfilosofikan Bait Alfiyah ke - 10 dalam Bab الكلام yang berbunyi :

بالجر والتنوين والنداء وأل # ومسند للإسم تمييز حصل

Dalam bait tersebut bisa difilosofikan bahwa seseorang tholabul ilmi (seorang yang mencari ilmu) harus memiliki sifat sebagai berikut :

1.        Bil jarri (بالجر)

Sifat yang pertama ialah jer, dalam artian tunduk dan tawadzu dalam segala bentuk perintah baik itu "khablumminallah" Ataupun "khablumminannas" Sesuai yang diperintahkan oleh Allah dalam firmannya “atti’ullaha waati’urrosul waulilamri mingkum”.

2.        Tanwin (التنوين)

Artinya, kemauan atau niat yang tinggi mencari ridha Allah SWT. Dengan kemauan yang tinggi seorang thalabul ilmi akan mencapai apa yang ia inginkan. Sesuai dengan apa yang di sabdakan Nabi Muhammad SAW. Yang datangnya dari Amirul Mukminin, Abu Hafs, Umar Bin Khatab r.a, bahwa Nabi Muhammad SAW. Pernah bersabda yang berbunyi, “innamal a’malu binniyati, wa innama likullimriin ma nawa…(al – Hadist)”.

3.        Nida’ (النداء)

Artinya, Dzikir. Setelah adanya niat yang baik untuk mencapai tempat yang layak disisi Allah swt. Seorang thalabul ilmi diharapkan berdzikir mengingatNya.

4.        Al (ال)

Yang berarti berfikir. Karena berfikir manusia mempunyai derajad yang lebih tinggi dari mahluk Allah lainnya. Karena akal adalah suatu karunia Allah yang hanya diberikan pada manusia tidak dengan makhluk yang lain. Maka dari itu, setidaknya seseorang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya menggunakan akal fikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berfikiran licik.

5.        Musnad Ilaihi (مسند اليه)

Beramal nyata (ikhlas). Cara yang kelima ini merupakan puncak dari semuanya. Dengan ikhlas semuanya akan gampang, bahkan hal yang selama ini sulit untuk di dapatkan itu bisa terealisasikan. Rahasianya hanya dengan bisa melapangkan hati untuk senantiasa ikhlas dalam segala amal. الصدق بالقول والإخلاص بالعمل



Semoga kita semua bisa menjalankan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Malik, dan dimudahkan dalam mencari ilmu dan bisa berguna bagi masyarakat, agama maupun negara . Amiin.

 

Oleh : Kang Ahmad Muhajir

Peringatan Maulid Nabi adalah tradisi untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kata Maulid sama artinya dengan Milad yang diambil dari bahasa arab yang berarti “hari lahir”. Peringatan kelahiran Nabi ternyata bukanlah tradisi yang ada ketika Nabi sendiri masih hidup. Perayaan atau peringatan ini berkembang luas dalam masyarakat diberbagai negara termasuk Indonesia jauh setelah Nabi wafat.

Hampir bisa dipastikan peringatan Maulid Nabi yang sering kita lihat dizaman ini, tidak pernah ada dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Lalu seperti apa sejarah dimulainya peringatan Maulid Nabi ini ?

Peringatan maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh seorang raja Irbil (wilayah Irak -saat ini-) yang bernama Syekh Mudzaffarudin al-Kaukabri sekitar abad ke-7 Hijriyah dalam rangka menyemangati dan meneladani para pemuda pada saat itu tentang sosok Nabi Muhammad SAW.

Peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW merupakan hal yang sudah lazim bagi orang Indonesia dengan sebutan Maulid Nabi. Dengan dilaksanakannya berbagai kegiatan demi menghormati kelahiran Sang Pemimpin umat akhir zaman. Seperti yang sudah sering dilakukan oleh masyarakat yaitu dengan adanya kegiatan pembacaan Maulid Nabi dimulai tanggal 1 sampai dengan tanggal 12 Robi’ul Awal, banyak juga pengajian-pengajian dengan tema “Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW” di berbagai daerah, kota maupun pelosok desa.

Nabi Muhammad SAW sendiri dilahirkan pada hari Senin, 12 Robi’ul Awal tahun Gajah, atau bertepatan dengan 20 April 571 M. Dimana waktu terjadi suatu peristiwa yang sudah termaktub dalam Surat Al Fiil. Bahkan kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah disebutkan oleh Nabi-nabi sebelumnya, bahwa akan ada Nabi terakhir yang terlahir sebagai rahmat untuk alam semesta رحمة للعالمين .

Dalam kitab كتاب الديبعي disebutkan bahawa :

إن قريشا كانت نورا بين يدي الله عز وجل قبل أن يخلق آدم بألفي عام يسبح الله ذلك النور وتسبح الملائكة بتسبيحه

Maulid Nabi saat ini sudah menjadi tradisi yang baik dan rutinitas masyarakat Indonesia, baik perkotaan maupun pedesaan.

Di dalam Al Qur’an Allah SWT menyebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah contoh dan suri tauladan yang baik bagi umat manusia.

لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا.

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah SWT dan hari akhir serta senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. (al Ahzab : 21)

Rasulullah SAW dilahirkan ke dunia ini tidak hanya mengubah keyakinan kejahiliahan bangsa Arab saat sebagai penyembah berhala, tapi Rasulullah SAW juga mengubah berbagai hal yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.

Rasulullah SAW begitu gigih memperjuangkan perubahan tatanan social, hokum dan budaya untuk kesejahteraan dan keadilan bagi semua umat manusia. Namun dalam perjuangan Rasulullah SAW selalu mengedepankan keluhuran tata krama, sehingga Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang relative singkat.

Yang demikian itu adalah contoh dari Rasulullah SAW, bahwa dalam berdakwah kita harus berjuang untuk mengubah pola kehidupan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tentunya dengan budi pekerti yang baik, sehingga dakwah kita mudah diterima oleh masyarakat.

Dalam kehiduan berkeluarga Rasulullah SAW juga memberi contoh, bagaimana Beliau begitu menyayangi dan menghormati istri-istrinya. Sebagai pemimpin umat islam saat itu, Beliau tidak pernah gengsi untuk membantu pekerjaan istrinya di rumah. Rasulullah SAW juga bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain. Apa yang bias dilakukannya sendiri, Beliau lakukan sendiri.

Ditulis oleh : M. Abror, Naviatun Nisa, Nur Fadilah (Santri MDW Ponpes Al Ishlah Assalafiyah Luwungragi)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget